Saya seorang penulis. Atau setidaknya, saya pernah menjadi seorang penulis.
Dua tahun lalu, saya sedang mengerjakan novel ketiga — karya yang sudah mati-matian saya pertahankan selama delapan belas bulan, namun tidak juga bergerak dari halaman dua ratus tujuh belas. Bukan karena idenya buruk. Bukan karena bahasanya mandek. Tapi karena saya tidak bisa menemukan keheningan yang tepat.
Jakarta terlalu bising. Apartemen kami terlalu penuh dengan suara tetangga, klakson, notifikasi, suara kehidupan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Saya butuh ruang untuk tenggelam. Saya butuh tempat yang sungguh-sungguh sunyi.
Maka saya menyewa sebuah rumah di pinggiran Magelang.




