Saya tidak tahu apakah ini tentang ibu saya. Atau tentang sesuatu yang sudah ada jauh sebelum saya lahir.
Ibu saya didiagnosis demensia stadium dua pada bulan April, dua tahun lalu. Bukan stadium yang paling berat — ia masih bisa makan sendiri, masih bisa berjalan ke kamar mandi, masih mengenali wajah saya meskipun kadang-kadang butuh beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Tapi ingatan jangka pendeknya mulai berlubang. Ia lupa apakah sudah makan atau belum. Ia lupa nama tetangga yang sudah tiga puluh tahun tinggal di sebelah. Kadang ia lupa bahwa ayah saya sudah meninggal enam tahun yang lalu dan menanyakan kapan Bapak pulang dari sawah.
<--more-->Saya memutuskan untuk pindah kembali ke rumah masa kecil saya — rumah tua di pinggiran Purwokerto, bangunan tahun delapan puluhan dengan dinding yang sudah retak di beberapa sudut dan langit-langit yang mengeluarkan suara ketika angin kencang. Saya ambil cuti panjang dari kantor. Saya pikir ini hanya soal menemani dan menjaga. Saya pikir ini hanya soal ibu.
Saya tidak tahu bahwa ada hal lain di rumah itu yang sudah menunggu seseorang kembali.
Minggu pertama berjalan normal. Saya memasak, membersihkan rumah, menemani ibu menonton sinetron sore hari yang ia tonton berulang kali tanpa pernah ingat bahwa ia sudah menontonnya kemarin. Malamnya saya tidur di kamar lama saya — kamar yang masih berbau kapas dan kayu tua, dengan jendela yang menghadap ke kebun belakang tempat pohon jambu biji yang saya tanam sewaktu SD masih berdiri.
Semuanya wajar. Semuanya terasa seperti kepulangan yang melelahkan tapi sederhana.
Kemudian pada suatu malam di minggu kedua, saya terbangun pukul dua pagi karena mendengar ibu berbicara.
Itu bukan hal yang aneh pada awalnya — dokternya memang pernah bilang bahwa penderita demensia sering berbicara sendiri di malam hari, kadang karena mimpi, kadang karena batas antara tidur dan bangun pada mereka menjadi tipis. Saya bangkit dari ranjang, berjalan ke kamar ibu, dan membuka pintu perlahan.
Ibu duduk di tepi ranjangnya. Lampu kamar saya matikan sebelum tidur, jadi satu-satunya cahaya yang masuk adalah rembesan lampu teras dari bawah pintu — cukup untuk melihat siluet ibu yang duduk dengan punggung tegak, kepala sedikit miring ke arah sudut kamarnya, sudut yang benar-benar gelap di sebelah lemari pakaian tua.
Ia berbicara dengan suara rendah dan pelan, seperti orang yang sedang bercakap-cakap santai. Saya tidak langsung bisa menangkap kata-katanya, jadi saya lebih mendekat.
"...ya sudah, nanti saya bilangin dia. Tenang saja."
Saya berdiri di ambang pintu. "Bu? Ibu ngomong sama siapa?"
Ibu menoleh ke arah saya. Dalam remang itu, ekspresinya terlihat tenang — bukan ekspresi orang yang baru kaget dibangunkan, tapi ekspresi orang yang memang tahu saya sudah ada di sana sejak tadi.
"Sama yang di sana," katanya, menunjuk ke sudut gelap itu.
Saya menyalakan lampu kamar. Sudut itu kosong. Hanya dinding retak dan sudut lemari pakaian yang permukaannya buram karena usia.
"Tidak ada siapa-siapa di sana, Bu."
Ibu menatap saya dengan ekspresi yang sulit saya deskripsikan — bukan ekspresi orang bingung, bukan ekspresi orang yang kesasar di antara mimpi dan kenyataan. Lebih seperti ekspresi seseorang yang tahu sesuatu yang tidak saya ketahui, dan sedang mempertimbangkan apakah akan memberitahu saya atau tidak.
"Ya sudah," katanya akhirnya, dan berbaring kembali.
Saya menganggap itu halusinasi. Gejala wajar dari kondisinya. Saya matikan lampu, kembali ke kamar, dan mencoba tidur.
Kejadian itu berulang. Tidak setiap malam, tapi cukup sering — tiga atau empat kali seminggu, selalu antara pukul satu dan tiga pagi, selalu dengan ibu duduk di tepi ranjang dan berbicara ke arah sudut yang sama.
Yang mulai membuat saya tidak nyaman bukan frekuensinya. Tapi isinya.
Karena percakapan ibu bukan sembarangan. Bukan kata-kata acak seperti yang sering saya baca dalam deskripsi klinis tentang halusinasi demensia. Ibu berbicara dengan struktur yang koheren — ada pertanyaan, ada jawaban dari sisinya, ada topik yang berganti dengan wajar seperti percakapan nyata. Dan semakin sering saya mendengarkan dari pintu tanpa masuk, semakin jelas bahwa ibu sedang berbicara tentang keluarga kami.
"Bapaknya anak-anak itu memang keras. Tapi hatinya baik."
"Eh, iya, yang kecil itu. Sekarang sudah besar. Sudah balik ke sini ngurus saya."
Kadang ia tertawa kecil, seperti merespons sesuatu yang lucu. Kadang suaranya turun ke bisikan, seperti menyimpan rahasia.
Saya mencatat ini semua. Saya mengirimkan catatan ke dokternya. Dokternya bilang ini cukup umum — penderita demensia sering menciptakan kehadiran imajiner sebagai mekanisme untuk tidak merasa kesepian. Tidak perlu dikhawatirkan selama ibu tidak tampak tertekan.
Ibu tidak tampak tertekan. Sebaliknya — di pagi hari setelah malam-malam itu, ibu tampak lebih segar, lebih banyak bicara, lebih hadir dari biasanya. Seolah percakapan malam itu memberinya sesuatu yang tidak bisa saya berikan.
Saya seharusnya merasa lega. Tapi saya tidak merasa lega.
Titik baliknya terjadi pada suatu Sabtu sore ketika saya sedang membersihkan gudang — ruang sempit di belakang dapur yang penuh dengan barang-barang lama yang tidak pernah disentuh sejak ayah meninggal. Di sana saya menemukan sebuah kotak karton yang sudah menguning, isinya foto-foto keluarga lama. Kebanyakan foto hitam putih, beberapa berwarna pudar, semuanya dari era sebelum saya lahir.
Saya duduk di lantai gudang dan mulai melihat foto-foto itu satu per satu.
Di antara puluhan foto itu, ada satu yang membuat saya berhenti.
Foto itu menggambarkan kamar ibu — saya mengenalinya dari posisi jendela dan bentuk lemari pakaian yang masih sama. Di tepi ranjang, duduk seorang perempuan tua yang saya tidak kenal, tubuhnya kecil, rambutnya digelung ke belakang, tangannya dilipat di atas lutut. Usianya mungkin delapan puluhan. Di sudut foto, ada tulisan tangan kecil dengan tinta yang sudah memudar: Mbah Uti. Kamar belakang. 1987.
Saya tidak pernah tahu siapa Mbah Uti. Ibu tidak pernah menyebutnya. Ayah juga tidak.
Saya membawa foto itu ke ruang tengah dan menunjukkannya kepada ibu yang sedang duduk menonton televisi.
"Bu, ini siapa?"
Ibu mengambil foto itu, memandangnya sebentar, lalu tersenyum dengan ekspresi yang aneh — bukan senyum nostalgia, tapi senyum seperti orang yang bertemu teman lama di tempat yang tidak terduga.
"Oh, ini yang biasa menemani Ibu malam-malam," katanya santai, mengembalikan foto itu kepada saya, lalu kembali menatap televisi.
Malam itu saya tidak bisa tidur.
Saya berbaring dengan lampu menyala, menatap langit-langit, mencoba menyusun penjelasan yang masuk akal. Ibu pernah melihat foto itu sebelumnya dan menyimpannya dalam suatu lapisan ingatan yang tidak terdampak demensia. Otak penderita demensia memang bekerja dengan cara yang tidak linear — ingatan lama sering justru lebih kuat dari ingatan baru. Mungkin Mbah Uti adalah sosok dari masa kecil ibu yang terekam cukup kuat untuk bertahan.
Itu penjelasan yang masuk akal. Itu yang saya pegang selama beberapa hari berikutnya.
Sampai ibu mengatakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan cara apapun.
Kamis malam, saya sedang duduk di samping ranjang ibu — kebiasaan baru yang saya mulai setelah peristiwa foto itu, menemaninya sampai ia betul-betul tertidur sebelum saya kembali ke kamar. Ibu berbaring dengan mata setengah terbuka, seperti di ambang tidur, dan saya pikir ia sudah hampir tidak sadar.
Kemudian tanpa membuka mata sepenuhnya, ia berkata, "Yang di sana bilang, kamu harus cepat-cepat kirim surat lamaran itu."
Saya terdiam.
Tidak ada yang tahu tentang surat lamaran itu. Bukan ibu, bukan siapapun. Dua minggu sebelum saya pindah ke sini, saya mengirimkan lamaran pekerjaan ke sebuah perusahaan di Semarang — langkah yang saya ambil diam-diam karena belum yakin, dan belum mau memberi harapan kepada siapapun termasuk diri sendiri. Saya bahkan belum pernah menceritakannya kepada istri saya.
"Apa, Bu?"
"Surat lamaran. Yang di sana bilang kamu tidak perlu takut. Orangnya baik di sana."
Ibu mengucapkan itu dengan nada yang sama persis dengan nada seseorang yang sedang meneruskan pesan dari orang lain — santai, informatif, tanpa beban — lalu napasnya perlahan menjadi teratur dan ia tertidur.
Saya duduk di sisi ranjangnya sangat lama setelah itu. Ruangan itu dingin dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan dingin AC atau dingin angin malam. Lebih seperti udara yang tidak bergerak, yang mengisi ruangan dengan cara yang terasa padat dan hadir.
Dan untuk pertama kalinya, saya tidak menatap sudut itu untuk membuktikan bahwa tidak ada apa-apa. Saya menatapnya karena saya tidak yakin lagi bahwa memang tidak ada apa-apa.
Minggu-minggu berikutnya saya mulai melakukan sesuatu yang memalukan untuk diakui: saya mulai mencari tahu tentang Mbah Uti.
Dari ibu di sela-sela momen ketika ia cukup jernih untuk diajak bicara, dari dokumen-dokumen lama di gudang, dari satu-satunya paman yang masih hidup di Banyumas yang saya hubungi lewat telepon, akhirnya saya mendapatkan gambaran yang cukup lengkap.
Mbah Uti — nama aslinya Sutini — adalah ibu dari ayah saya. Ia meninggal tahun 1989, dua tahun sebelum saya lahir, di kamar yang sekarang menjadi kamar ibu saya. Ia meninggal di usia delapan puluh tiga tahun, sendirian, pada suatu malam ketika semua orang di rumah sedang pergi ke hajatan tetangga. Paman saya bilang, ketika mereka pulang dan menemukan Mbah Uti sudah tidak ada, di wajahnya ada ekspresi yang aneh — bukan ekspresi orang yang meninggal dalam ketakutan atau kesakitan, tapi ekspresi orang yang sedang berbicara dengan seseorang, mulut sedikit terbuka, kepala sedikit miring ke satu sisi.
Persis seperti cara ibu saya duduk di tepi ranjang setiap malam.
Saya menutup telepon dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.
Saya tidak bisa mengatakan dengan jujur apa yang terjadi setelah itu. Bukan karena tidak ada yang terjadi, tapi karena ada bagian dari saya yang masih tidak mau sepenuhnya mengakuinya.
Yang bisa saya katakan adalah ini: ibu saya meninggal empat bulan kemudian, pada suatu Selasa dini hari, tenang dan tanpa perjuangan. Saya ada di sampingnya. Wajahnya ketika pergi adalah wajah yang sama — kepala sedikit miring, mulut sedikit terbuka, menatap ke arah sudut kamar dengan ekspresi yang sudah terlalu saya kenal.
Setelah segalanya selesai — setelah pemakaman, setelah tamu-tamu berdatangan dan pergi, setelah rumah kembali sunyi — saya duduk sendirian di kamar ibu untuk pertama kalinya.
Saya tidak tahu mengapa saya melakukan itu. Mungkin duka membuat orang melakukan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Saya duduk di tepi ranjang yang sudah dirapikan, di posisi yang sama dengan posisi ibu selama berbulan-bulan, dan saya menatap sudut gelap di sebelah lemari pakaian tua itu.
Sudut itu kosong. Tentu saja kosong.
Tapi udara di kamar itu — udara yang dingin dan padat dan tidak bergerak itu — masih ada. Masih sama. Masih terasa seperti sesuatu yang menempati ruang dengan cara yang tidak bisa saya ukur tapi bisa saya rasakan.
Saya duduk di sana cukup lama. Lama sekali.
Dan ketika akhirnya saya berdiri untuk pergi, ada sesuatu yang membuat langkah saya terhenti di ambang pintu. Sesuatu yang saya tidak yakin apakah saya sungguh mendengarnya atau hanya menginginkannya karena duka membuat pikiran melakukan hal-hal yang kejam.
Suara yang sangat pelan. Sangat samar. Seperti seseorang yang berbicara dari balik dinding tipis.
Bukan suara ibu.
Suara yang lebih tua dari itu.
Saya masih tinggal di rumah itu. Saya tidak tahu kenapa — mungkin karena belum ada alasan yang cukup kuat untuk pergi, mungkin karena ada bagian dari saya yang tidak mau meninggalkan sesuatu yang saya tidak sepenuhnya pahami. Lamaran pekerjaan itu saya kirim dua minggu setelah ibu meninggal. Saya diterima.
Tapi saya belum pindah.
Malam-malam di sini sunyi. Kamar ibu saya biarkan kosong tapi pintunya tidak saya kunci. Kadang-kadang, ketika saya berjalan melewatinya menuju dapur pada malam hari, saya berhenti sebentar di depan pintu yang terbuka dan menatap ke dalam.
Sudutnya selalu gelap. Selalu kosong.
Tapi ada malam-malam ketika udara dari balik pintu itu terasa berbeda — lebih dingin, lebih padat, lebih seperti sesuatu yang bernapas — dan pada malam-malam seperti itu saya tidak langsung melanjutkan langkah.
Saya berdiri di sana.
Menunggu. Meskipun saya tidak tahu menunggu apa.
Dan kadang-kadang, dalam diam yang benar-benar penuh itu, saya merasa bahwa apapun yang ada di sudut kamar ibu saya sudah sangat lama berada di sana, jauh sebelum ibu, jauh sebelum Mbah Uti, mungkin jauh sebelum rumah ini berdiri di atas tanah ini — dan ia tidak pergi bersama ibu.
Ia tinggal.
Ia menunggu yang berikutnya.
Seminggu yang lalu, keponakan saya yang berusia enam tahun datang berkunjung bersama kakak saya. Anak itu berlari-lari di seluruh rumah seperti anak-anak pada umumnya, tertawa, berisik, tidak mengenal rasa takut.
Sampai ia berdiri di depan kamar ibu.
Ia berhenti. Menatap ke dalam. Kepala sedikit miring ke satu sisi.
"Om," katanya tanpa menoleh ke arah saya, "ada nenek di sana."
Saya tidak menjawab.
"Dia senyum ke aku," lanjutnya.
Saya membawa ia pergi dari pintu itu secepat yang saya bisa tanpa membuatnya takut. Saya tidak menjelaskan apa-apa. Saya tidak tahu harus menjelaskan apa.
Yang saya tahu hanya satu hal:
Kepala anak itu miring ke arah sudut yang sama persis.
Sudut yang selalu sama.
--more-->












